Yoris Santrianus Nardi

 

 

DARI PATA KE JAKARTA: PERBEDAAN PRAKTIK DOA ROSARIO DI DESA DAN DI KOTA

     Yoris Santrianus Nardi

Hallo Sahabat, pasti diantara kalian ada yang belum familiar dengan nama PATA. Jadi, sebelum kita masuk ke pembahasan, saya ingin mengenalkan dulu. PATA adalah sebuah kampung kecil yang terletak di pelosok Manggarai Barat, Flores. Tempat saya lahir dan tumbuh besar.  Di sana, tradisi dan kebiasaan masyarakatnya masih sangat kental dengan nilai-nilai budaya dan religius yang sudah dilakukan oleh kakek nenek buyut kami. Karena saya lahir di lingkungan yang 100% katolik, saya kali ini mau bahas terkait  praktik doa Rosario yang dilakukan secara berkelompok dari rumah ke rumah yang sering kami lakukan setiap bulan Mei dan Oktober di Pata dan apa yang kami lakukan saat bulan Mei atapun Oktober di Jakarta. Kontras dengan Pata yang kental  dengan tradisi, budaya dan kehidupan bersosial yang masih sangat tinggi , di sisi lain ada Jakarta—ibu kota yang dinamis dan serba cepat. Pola hidup urban di kota besar ini memunculkan cara-cara berbeda saat kami hendak menjalankan praktik doa rosario yang cenderung lebih individualistik dan privat.

Ok , Sebelum kita lanjut lagi, mungkin teman-teman ada juga yang bertanya, apa sih itu Doa Rosario?

Doa Rosario adalah praktik doa Katolik yang melibatkan perenungan tentang misteri kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus melalui serangkaian doa dan doa-doa lain yang dipanjatkan dengan menggunakan alat bantu doa berupa biji-bijian (rosary). 
Rosario itu ibarat jalan cerita kehidupan  Yesus  Kristus dan  Bunda Maria, yang dibagi jadi empat peristiwa utama: 

1. Gembira – Waktu Maria dapet kabar dari malaikat  Gabriel dan Yesus lahir. 

2. Sedih – Saat Yesus disiksa dan wafat di kayu salib. 

3. Mulia – Kebangkitan Yesus dan kemuliaan Maria di surga. 

4. Terang – Peristiwa penting (Yesus dibaptis dan Perjamuan Terakhir).

Rosario biasanya didoain pas Bulan Mei (Bulan Maria) dan Oktober (Bulan Rosario), karena punya sejarah panjang yang bikin kedua bulan ini spesial banget buat umat Katolik.

 

Nah, kita kembali ke topik, perbedaan praktik doa Rosario

Ketika bulan Mei di kampung, Doa Rosario bukan hanya untuk pergi berdoa pribadi, tapi juga jadi cara berkumpul dan mempererat hubungan. Orang-orang doa dari rumah ke rumah, dapet vibes kekeluargaan yang kuat, mirip kayak arisan atau kerja bakti tetapi kita menyembah Tuhan.

Tapi ketika lihat di Jakarta, situasinya agak beda. Kebanyakan orang doa Rosario sendirian atau cuma di gereja. Ini bukan karena kurang religius, tapi lebih karena gaya hidup “urban” yang lebih individual. Orang sibuk kerja, pulang udah capek, jadi lebih memilih doa secara pribadi tanpa harus kumpul komunitas. 

Kalau bicara dari sisi ANTROPOLOGI, cara berdoa Rosario  di kampung dan di Jakarta seperti mencerminkan pola hidup orang-orang:

Di Kampung → Kebersamaan, gotong royong, doa bersama sebagai bagian dari kehidupan sosial. 

Di Jakarta  → Lebih personal, doa jadi bagian dari rutinitas pribadi yang fleksibel. 

Ini menunjukan kalau kepercayaan itu tidak  cuma soal iman, tapi juga terhubung sama budaya dan pola hidup masyarakat. Makanya, meski sama-sama berdoa Rosario, cara pelaksanaannya bisa beda banget! 

Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran  jelas tentang bagaimana budaya dan lingkungan mempengaruhi cara kita berdoa. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NUSA TENGGARA TIMUR(NTT) DAN TOLERANSI