BENTUK PERGESERAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Yoris Santrianus Nardi

Masyarakat dan Budaya adalah dua hal sentral dalam kehidupan, baik dalam Antropologi maupun Sosiologi. Dalam satu masyarakat pasti terdapat budaya atau bisa dikatakan saling berkaitan satu dengan lainnya. Namun kedua hal ini jelas memiliki perbedaan. 

 

 Masyarakat 

Secara umum adalah sekelompok besar manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu yang relatif lama, terikat oleh hubungan sosial yang kompleks, memiliki identitas bersama, dan mengikuti pola-pola perilaku yang terorganisir. Dalam perspektif antropologi, masyarakat juga dicirikan oleh sistem kekerabatan yang kompleks (seperti marga, klan) yang mengatur hubungan sosial, perkawinan, dan warisan, serta strategi adaptasi kolektif terhadap lingkungan alam dan sosialnya. 

 

Ciri Masyarakat: 

·         Dalam Kelompok Manusia: Terdiri dari banyak individu. 

·         Interdependensi: Anggotanya saling bergantung untuk memenuhi kebutuhan (ekonomi, sosial, emosional). 

·         Interaksi Sosial Berkelanjutan: Terjadi hubungan timbal balik yang terus-menerus dan terpola. 

·         Wilayah (Teritorial): Memiliki ruang hidup bersama (bisa fisik atau virtual). 

·         Struktur Sosial: Terorganisir dalam lapisan (stratifikasi), peran (role), status, dan lembaga sosial (keluarga, pendidikan, politik, agama). 

·         Identitas Kolektif: Memiliki rasa kebersamaan dan perbedaan dari kelompok lain. 

·         Keberlangsungan Hidup: Memiliki mekanisme untuk mempertahankan diri dan melanjutkan eksistensinya (reproduksi, sosialisasi). 

·         Sistem Kekerabatan dan Adaptasi: Memiliki pola hubungan darah/perkawinan yang mengatur interaksi, serta kemampuan beradaptasi secara kolektif terhadap lingkungan. 

 

 Budaya 

Seluruh cara hidup yang dipelajari, dimiliki, dan diwariskan oleh suatu masyarakat. Budaya mencakup sistem pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Secara antropologis, budaya dipahami sebagai jaringan makna (web of meaning) yang ditenun manusia melalui simbol-simbol (bahasa, ritual, artefak) yang dipelajari secara sosial dan diwariskan, membentuk cara pandang dunia (worldview) dan identitas kelompok. 

 

Menurut Koentjaraningrat, Unsur-unsur Utama Budaya: 

1. Sistem Religi/Keagamaan 

2. Sistem Kemasyarakatan/Organisasi Sosial 

3. Sistem Pengetahuan 

4. Bahasa 

5. Kesenian 

6. Sistem Mata Pencaharian/Ekonomi 

7. Sistem Teknologi & Peralatan 

 

 

 BENTUK PERGESERAN MASYARAKAT DAN BUDAYA 

Berdasarkan definisi di atas, berikut analisis mendalam tentang pergeseran yang terjadi pada keduanya dalam konteks saat ini: 

 

 1. Pergeseran Masyarakat 

Perubahan dalam struktur sosial, nilai, norma, atau perilaku akibat faktor lingkungan, teknologi, interaksi antarbudaya, sistem politik/ekonomi. 

 

Bentuk Pergeseran: 

·         Perubahan Interaksi: Bergeser dari tatap muka ke virtual (media sosial, Zoom), mengurangi intensitas ikatan emosional. Contoh: K-Pop lebih digemari daripada lagu Indonesia. 

·         Transformasi Struktur Sosial:  Melemahnya peran tetua adat/kepala suku dalam pengambilan keputusan., Mobilitas sosial vertikal kini ditentukan pendidikan formal dan keterampilan digital, bukan keturunan. 

·         Pergeseran Sistem Kekerabatan: 

Urbanisasi mengurangi ketergantungan pada keluarga besar (extended family). Negosiasi peran gender dalam rumah tangga dan masyarakat. 

·         Akulturasi dan Asimilasi: 

            Migrasi dan media memicu pertukaran budaya (akulturasi). 

Tekanan pada komunitas adat untuk mengadopsi nilai dominan (asimilasi). 

 

 2. Pergeseran Kebudayaan (Cultural Shift) 

Perubahan nilai, perilaku, dan norma akibat globalisasi, teknologi, dan interaksi antarbudaya. 

 

Bentuk Pergeseran: 

-          Dominasi Bahasa Global: Bahasa Inggris meminggirkan bahasa daerah (72 bahasa Indonesia terancam punah, UNESCO). 

-          Adaptasi Budaya Lokal: Warung kopi tradisional menjadi "coffeeshop aesthetic" dengan menu fusion. 

-           Inovasi Seni Tradisional: Wayang kulit diiringi musik elektronik; batik motif pop culture. 

-          Cultural Lag (Ketertinggalan Budaya): 

-          Perubahan teknologi (cepat) vs. nilai/norma (lambat). 

Contoh: Akses internet tak diimbangi kebijaksanaan menyikapi informasi, memicu konflik generasi. 

Ø  Komodifikasi Budaya: 

            Simbol sakral (batik, keris, ritual adat) dijadikan komoditas wisata, berisiko mengikis makna asli. 

Ø  Hibridisasi Budaya: 

Percampuran unsur budaya melahirkan bentuk baru (contoh: lagu daerah diaransemen pop/rock). 

Ø  Ancaman Pengetahuan Lokal: 

Pengobatan tradisional (jamu), pertanian ekologis (subak), arsitektur tradisional terancam punah. 

 

 

 FAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK 

Pendorong Perubahan: 

Ø  Internet dan Media Sosial: 

 Menciptakan arena budaya baru tempat identitas dinegosiasikan dan trend lahir secara viral. 

Ø  Kapitalisme Global: 

Logika efisiensi dan konsumerisme bersaing dengan nilai tradisional (gotong royong, kesederhanaan). 

Ø  Interkoneksi Global: 

  - Aliran informasi mempercepat pertukaran budaya (contoh: K-Pop, aesthetic coffeeshop). 

 

Dampak Kecepatan Perubahan: 

Ø  Nilai lokal terkikis; kesenjangan generasi (generation gap). 

Ø  Budaya direduksi menjadi konten viral; risiko kehilangan keunikan lokal (homogenisasi budaya). 

 

 

 STRATEGI PELESTARIAN BERBASIS ANTROPOLOGI 

Keseimbangan Adaptasi dan Pelestarian: 

1.      Terbuka pada Kemajuan: 

Ø  Manfaatkan teknologi untuk promosi budaya. 

Ø  Kreatif mengolah tradisi menjadi bentuk kekinian (contoh: digitalisasi naskah kuno). 

2.      Kritis Menjaga Inti Budaya: 

Ø  Dokumentasi Etnografis: Catat tidak hanya artefak/ritual, tapi juga makna dan konteks sosialnya melalui pengamatan partisipatif dan wawancara. 

Ø  Revitalisasi Kreatif: Hidupkan kembali warisan budaya dengan pendekatan relevan bagi generasi muda (contoh: gamifikasi cerita rakyat). 

Ø  Pemberdayaan Komunitas Pemilik Budaya (Culture Bearers): Berikan kendali penuh atas representasi dan pengambilan keputusan terkait budaya mereka. 

 

Peran Aktif Masyarakat: 

Ø  Pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal. 

Ø  Memperkuat gerakan akar rumput (grassroots movement) pelestarian budaya. 

Ø  Dialog antar-generasi untuk menjembatani nilai tradisi dan modernitas. 

 

Tujuan: Mengarahkan perubahan agar masyarakat tetap rukun dan budaya tak kehilangan jati dirinya. 

 

 

 DAFTAR PUSTAKA 

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.   

Nasikun. 2021. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. 

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 

UNESCO. Atlas of the World's Languages in Danger. http://www.unesco.org/languages-atlas/ 

 

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NUSA TENGGARA TIMUR(NTT) DAN TOLERANSI